Ditulis oleh: Business Coach Ridho Muhtadi

 

Pada tahun sebelum 2010, belajar bisnis tidak begitu diperlukan. Dulu, asalkan kita memiliki motivasi bisnis yang kuat, bisnis akan berhasil.

 

Namun pada tahun ini, belajar bisnis semakin diminati dan diperlukan. Khususnya bagi Anda yang ingin menjadi seorang entrepreneur.

 

Mengapa Perlu belajar bisnis?

 

Mengapa kita perlu belajar bisnis? Pertanyaan ini perlu ditanamkan baik-baik pada diri kita. Kalau langsung terjun, memangnya kenapa. Mengapa harus belajar dulu?

 

Belajar bisnis menjadi perlu karena 3 hal

  1. Turunnya daya juang setelah berkembangnya zaman
  2. Kompetisi yang semakin tinggi
  3. Semakin canggihnya teknologi, membuat kita perlu untuk mempelajarinya untuk berbisnis

 

 

  1. Turunnya daya juang setelah berkembangnya zaman

Hadirnya teknologi-teknologi dan kemudahan, bisa membuat kita terlena. Pikirkan ini, berapakah banyak produk-produk yang anda beli untuk keperluan sehari-hari. Semakin berkembangnya zaman, kita malah semakin konsumtif.

 

Kita perlu belajar bisnis intinya cuma 1, ganti mindset jadi mental produsen. Jadilah mental produsen, bukan mental konsumen.

 

Setelah baca tulisan ini, Anda perlu tarik nafas dalam-dalam dan katakan dalam hati

“Mulai sekarang saya ingin menjadi mental produsen, bukan mental konsumen lagi”

Hembuskan nafas Anda dan tarik nafas dalam-dalam lagi

“Mental produsen, bukan mental konsumen”

 

Mental konsumen adalah mental yang terbuai.

Mental produsen adalah mental yang selalu menghasilkan.

 

  1. Kompetisi yang semakin tinggi

Kompetisi yang semakin tinggi akan membuat kita merasa perlu belajar bisnis lebih giat lagi. Jika kita tak bisa berkompetisi, maka kita akan semakin kalah. Kekalahan kompetisi pun bahkan terjadi dalam dunia kerja. Untuk dunia bisnis, lebih besar lagi kompetisinya.

 

Ada sebagian dari kita yang tidak merasa perlu kompetisi. Merasa perlu atau tidak perlu kompetisi, ini adalah pilihan kita sendiri. Tapi, fenomena kompetisi bisnis akan terus terjadi meskipun kita tak ingin kompetisi. Ibarat menjual produk yang sama, pasar tentunya akan diperebutkan meskipun kitanya tak memikirkan kompetisi.

 

Bagi Anda yang ingin kompetisi ataupun tak ingin kompetisi, yuk pelajari caranya berbisnis. Orang yang punya ilmu bisnis bisa melakukan kompetisi yang sehat.

 

Setelah baca tulisan ini, Anda perlu tarik nafas dalam-dalam dan katakan dalam hati

“Menghadapi tantangan perubahan zaman, saya semakin yakin untuk belajar berbisnis”

 

  1. Semakin canggihnya teknologi, membuat kita perlu untuk mempelajarinya untuk berbisnis

Anda sebelumnya telah keluar dari mental konsumen, mental yang terlena dengan teknologi. Sekarang, kita akan menjadi mental produsen. Apa itu mental produsen? Mental yang menggunakan teknologi untuk menghasilkan produk dan membantu orang lain.

 

Bagaimana memakai teknologi, adalah sebuah ilmu tersendiri. Tapi, ada yang lebih penting lagi yaitu belajar ilmu bisnis. Inti dari ilmu bisnis adalah mengambil keputusan.

 

Mengapa Mencari Nafkah Sebaiknya Dengan Bisnis?

 

Sekarang kita perlu memperhatikan semua lingkungan sekitar kita. Perlu kita ketahui, kita punya 3 pilihan cari penghasilan

  1. Kerja di perusahaan besar
  2. Kerja di perusahaan kecil
  3. Buka usaha sendiri

 

Kalau di perusahaan besar, tantangannya kurang.  Gajinya cenderung besar. Ilmunya cuma bisa di perusahaan besar lainnya yang sejenis.

 

Kalo di perusahaan kecil tantangannya lumayan. Sebabnya, baru sebagian sistem yang terbuat. Gajinya, tak begitu besar. Ilmunya lebih bisa dipakai di banyak tempat.

 

Kalo buka usaha sendiri, tantangannya sangat besar. Belum ada sistem sama sekali, kita yang buat sistemnya. Penghasilannya ga ada kalau kita ga berusaha. Semua ilmu dipelajari, digunakan, dan diterapkan. Kalau kata orang bikin usaha itu enak duitnya besar, yang ada malah berdarah-darah utang sana utang sini.

 

Nah, 3 cara cari duit ini tidak dipandang rendah selama halal.

Dalam tulisan ini, ga ada istilah usaha itu lebih baik daripada kerja. Jangan buat niat sama sekali ingin berbisnis karena tidak ingin bekerja. Ingat, kalau semuanya usaha dan ga ada yang kerja, ga bakal jalan.

 

Justru ketahuilah, yang pernah nyoba tiga-tiganya, bagus. Saya mau sedikit cerita, banyak kawan-kawan yang pernah kerja di perusahaan kecil trus buka usaha sendiri. Biasanya, justru lebih mudah bikin usaha baru dari yang belum pernah bekerja sama sekali.

 

Yang agak sulit itu kalau dari perusahaan besar, trus dipecat.

Dari situlah belajar bisnisnya harus serius. Cuma punya modal seadanya dan harus diputar biar bisa hidup.

 

Di situ kita perlu belajar entrepreneurship bahkan meski baru kerja.

Belajar entrepreneurship, belajar bisnis.

Soalnya, zaman sekarang lebih terbuka. Ga sedikit juga ada yang dari gajinya gede trus buka usaha malah profitnya melebihi dari gajinya.

 

Setelah baca tulisan ini, Anda perlu tarik nafas dalam-dalam dan katakan dalam hati

“Mulai sekarang saya ingin bermental produsen, ingin berbisnis agar lebih banyak memberi manfaat pada orang lain.”

Hembuskan nafas Anda dan tarik nafas dalam-dalam lagi

“Mental produsen, mental entrepreneur”

1. Lima Ciri Entrepreneur

 

Apa itu entrepreneurship?

Entrepreneurship adalah soal mengambil keputusan.

Mana yang mau kita pilih, dengan pertimbangan benar.

 

Nah, mental Entrepreneur itu ga sama dengan dagang.

Ini bedanya ya.

 

  1. Entrepreneur itu belajar semuanya, pedagang cuma memikirkan gimana dagangannya laku.
  2. Entrepreneur bikin sistem bisnis, pedagang ga bikin sistem bisnis
  3. Entrepreneur punya rencana usaha yang matang, pedagang cuma “yang penting usaha”.
  4. Entrepreneur itu rajin baca, pedagang itu tak harus rajin membaca.
  5. Entrepreneur itu rajin ngobrol, pedagang itu tak harus rajin ngobrol.

 

Di sini bukan bermaksud merendahkan pedagang. Tapi, sudah banyak pedagang-pedagang yang cerita ruginya banyak, ini karena entrepreneushipnya belum ada. Kalau pedagang yang punya entrepreneurship, beda cerita. Makanya, yuk, kita perlu jadi entrepreneur

 

Entrepreneur itu memiliki 6 keahlian sekaligus

Keahlian 1, namanya General

Keahlian 2, namanya Produk

Keahlian 3, namanya Marketing

Keahlian 4, namanya Sales

Keahlian 5, namanya operasional

Keahlian 6, namanya finansial

 

Apa itu general, produk, marketing, sales, operasional, dan finansial? Kita akan mempelajari ini pada sesi berikutnya.

 

Kesimpulannya, dalam entrepreneurship, mindset kita perlu berubah. Bahkan juga mindset soal belajar. Jangan sampai kita langsung praktek tanpa belajar dulu. Ingat, ga ada yang instan dalam usaha. Kita perlu banyak belajar bisnis, gali terus. Tapi ingat, jangan kebanyakan belajar teori tapi ga praktek-praktek. Jangan sampai kita seminar sana, seminar sini, tidak eksekusi.

 

Ingat, kita membuat sistem usaha dari nol. Wajib belajar, wajib mengamalkan ilmunya.

 

Dan ingat juga, pengusaha itu perlu bisa mempertimbangkan semuanya. Kita boleh berpikir positif, optimis, selama tidak mengabaikan beberapa pertimbangan. Kita boleh berpikir negatif selama memiliki solusi.

 

Kita perlu jujur. Rumus di belazzar adalah kejujuran dalam menjawab:

“Saya disebut miskin jika dibandingkan orang yang lebih kaya dari saya.”

“Saya disebut kaya jika dibandingkan orang yang lebih miskin dari saya.”

“Saya itu miskin hati dibandingkan dia, dia banyak bersedekah. Maka saya harus banyak bersedekah”

“Tapi saya tidak kaya hati dibandingkan siapapun, karena saya harus jujur bahwa saya banyak kekurangannya. Jujur bahwa di agama tidak boleh bilang kita kaya hati.”

 

Inilah akhir dari tulisan pertama belajar bisnis.

Anda boleh klik pada link ini untuk latihan soal